Mahasiswa Perbankan Syariah UIN Madura Lulus Tanpa Skripsi, Jadi Lulusan Terbaik lewat Jalur Publikasi Ilmiah
- Diposting Oleh Admin Web Prodi PBS
- Selasa, 14 April 2026
- Dilihat 62 Kali
PAMEKASAN — Kebahagiaan menyelimuti Nadya Apriza Azizi saat namanya dipanggil dalam Yudisium FEBI UIN Madura ke-XXII, Selasa (14/4/2026). Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Madura itu resmi lulus dengan predikat cumlaude setelah menyelesaikan kuliah selama 3,5 tahun melalui jalur publikasi artikel ilmiah tanpa skripsi konvensional.
Tak hanya itu, Nadya juga berhasil meraih predikat lulusan terbaik kedua di Program Studi Perbankan Syariah pada yudisium tersebut. Capaian itu menjadi hasil dari perjuangan panjang yang penuh revisi, proses penelitian, hingga penantian publikasi jurnal ilmiah.
Kelulusannya diraih setelah artikel ilmiahnya berjudul Determinants of Generation Z’s Interest in Using BYOND by BSI: An Empirical Study diterbitkan dalam jurnal Perisai Volume 9 Nomor 2 Tahun 2025. Penelitian tersebut membahas faktor-faktor yang memengaruhi minat Generasi Z dalam menggunakan layanan digital banking BYOND by BSI.
Penelitian itu melibatkan 120 responden nasabah BSI di Pamekasan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis SPSS versi 24. Hasilnya menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan dan keamanan menjadi faktor utama yang memengaruhi minat Generasi Z dalam menggunakan layanan digital banking syariah.
Di balik pencapaian tersebut, Nadya mengaku proses publikasi ilmiah tidak selalu mudah. Ada banyak momen lelah, tekanan revisi, hingga rasa ingin menyerah yang harus dihadapi selama menyusun artikel.
“Kalau orang lain nangis galau karena patah hati, aku adalah tipe mahasiswa yang nangis di pojokan kamar jam 2 pagi karena revisi dari reviewer nomor dua,” ujarnya sambil tertawa mengenang prosesnya.
Awalnya, Nadya mengira jalur publikasi ilmiah akan lebih ringan dibandingkan skripsi konvensional. Namun, kenyataannya justru menuntut ketelitian dan kesabaran lebih karena harus melalui proses review akademik yang ketat.
“Waktu awal memutuskan mengambil jalur konversi artikel, aku pikir jalannya bakal lebih santai daripada bikin skripsi tebal beratus-ratus halaman. Ternyata, dramanya justru berkali-kali lipat,” katanya.
Meski demikian, setiap proses revisi justru menjadi pengalaman berharga baginya. Ia merasa jalur publikasi ilmiah membuatnya lebih terbiasa berpikir kritis, disiplin menulis, dan berani menghadapi tantangan akademik.
Perjuangan itu akhirnya terbayar saat artikel ilmiahnya dinyatakan diterima untuk dipublikasikan.
“Momen pas dapat notifikasi email bertuliskan ‘Accepted’ adalah kebahagiaan terbesar. Semua lelah dan tangisan selama 3,5 tahun ini langsung lunas dibayar tuntas,” ujarnya.
Menurut Nadya, jalur publikasi ilmiah memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa. Selain mempercepat masa studi, karya ilmiah yang dipublikasikan juga dapat menjadi rekam jejak akademik yang berguna untuk melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja.
“Nanti nama kita bisa tercatat di Google Scholar atau Scopus. Itu jadi pencapaian akademik yang sangat berharga dan bisa memperkuat portofolio profesional di masa depan,” katanya.
Ia pun berharap pengalamannya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk tidak takut mencoba jalur publikasi ilmiah.
“Prosesnya memang berat, tapi di situlah kita belajar bertahan dan berkembang. Kalau aku bisa lulus 3,5 tahun dan cumlaude lewat jalur ini, teman-teman juga pasti bisa,” ujarnya.